(Edi Surant Ginting, M.Th)
Pendahuluan
Eka Darmaputera menegaskan bahwa kekristenan Indonesia sedang mengalami kemerosotan yang dalam dan sedang mencari sosok yang pas untuk menghadirkan jati diri kekristenan. Sosok yang pas ialah sosok yang menghayati Khotbah Tuhan Yesus di Atas Bukit, yaitu yang berjiwa asketis. Orang yang berjiwa asketis ialah orang yang terpanggil sebagai ‘hamba Allah’ yang rendah hati, yang bersedia menderita, yang tidak menjadi korban yang konyol, tetapi yang secara sadar menjadi kurban, tumbal bagi sesama.[1]
Senada dengan pernyataan di atas, maka menurut saya, untuk Indonesia, dari tiga aspek yang ditawarkan kekristenan, seperti aspek dogmatis-teologis, aspek ritualistis, dan aspek humanistis, maka aspek kedua dan ketigalah yang lebih relevan.
Itulah sebabnya, dari berbagai warisan sejarah gereja, maka asketisme, monastisisme, dan pietisme adalah hal-hal yang perlu terus digali dan ditawarkan kepada komunitas orang percaya di Indonesia.
Indonesia yang sedang berada di tengah laju semangat modernisme mau tidak mau akan berhadapan dengan filosofi tersebut. Materialisme bersama dengan hedonisme menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa ini. Apalagi, bila secara antropologis-psikologis, bangsa yang lama dijajah ini akan melihat materi dan kenikmatan bagaikan boneka bagi anak kecil dan bagaikan orangtua yang rindu bernostalgia. Saya berpendapat bahwa bila pada gereja mula-mula iman diukur dengan kredo ortodoks, maka untuk orang Kristen Indonesia, iman diukur dengan sikap dan pandangan terhadap materi.
Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak segenap pembaca untuk berkenalan dengan satu warisan mulia dari bapa-bapa gereja, yaitu asketisme atau teologi penyangkalan diri yang menurut Eddy Kristiyanto dan David Bosh adalah mahkota gereja dan jiwa kekristenan yang menyelamatkan gereja pada masa tenggelam di dalam kegelapan dunia pada abad pertengahan.[2]
Definisi
Kata asketisme berasal dari kata benda Yunani askhsiV yang berarti latihan atau praktik. Kata ini biasanya dikenakan kepada para atlet yang berlatih secara sistematis untuk mendapatkan tubuh yang sehat dan siap untuk bertanding. Selanjutnya, kata ini mulai dinilai secara filosofis, rohani, dan etis: latihan bukan hanya untuk fisik, tetapi juga untuk melatih kehendak, pikiran, dan jiwa untuk mencapai kehidupan rohani yang lebih tinggi.[3] Carl Wellman mengatakan bahwa asketisme adalah ajaran yang mendorong setiap orang Kristen untuk berlatih menyangkal diri dan menyangkal keinginan dagingnya.[4]
Menurut F.D. Wellem, istilah asketisme pada mulanya dipakai di dalam filsafat Stoa untuk menunjukkan praktik-praktik memerangi kejahatan dan usaha mengejar keadilan. Pada zaman Gereja Lama, asketisme tampak dalam praktik persiapan seorang Kristen menghadapi kemartiran dan perselibatan. Clemens dari Aleksandria dan Origenes dari Aleksandria adalah bapa-bapa gereja pertama yang memberi kerangka teoritis terhadap asketisme. Cita-cita asketisme inilah yang menyebabkan lahirnya kehidupan monastik pada abad ke-4, setelah kekristenan diterima dan diakui oleh negara.[5]
James Robinson mengatakan bahwa asketisme tidak dapat dikaitkan hanya dengan monastisisme, karena asketisme jauh lebih kompleks daripada monastisisme.[6] Douglas Burton-Christie menjelaskan bahwa asketisme adalah cara umum orang Kristen awal mengekspresikan kesalehan iman mereka, sedangkan monastisisme adalah salah satu bentuk pengembangan asketisme.[7]
Jadi, dari penjelasan ini, kita dapat membedakan istilah asketisme dari monastisisme. Asketisme adalah ajaran tentang latihan-latihan penyangkalan diri untuk mendapatkan kemampuan dalam pengendalian diri. Monastisisme atau kebiaraan adalah salah satu bentuk asketisme yang telah dilembagakan.
Menurut Eddy Kristiyanto, askese ialah latihan yang ditempuh orang Kristen di bawah bimbingan Roh Kudus untuk memurnikan diri dari dosa, menguasai diri dan memurnikan sikap hati di hadapan Allah, serta menghilangkan berbagai penghalang untuk merasakan hadirat Tuhan. Askese yang benar dan sehat akan membuahkan perkembangan moral dan cinta akan Allah serta sama sekali tidak merugikan kedewasaan pribadi dan tanggung jawab akan keadilan sosial.[8] Definisi ini diberikannya untuk menegaskan adanya kesalahpahaman banyak pihak dalam menilai asketisme dan monastisisme. Anggapan keliru yang didasarkan pada beberapa praksis asketis di Timur ialah bahwa asketisme merupakan tindakan orang Kristen untuk melarikan diri dari kegiatan dan tanggung jawab di dunia dengan cara bertapa di tempat-tempat tersembunyi dan melakukan penyiksaan tubuh secara ekstrem.
Carl Wellman membagi asketisme ke dalam beberapa tipe. Pertama ialah tipe asketisme parsial. Asketisme parsial ialah teori tentang penolakan keinginan yang lebih rendah, seperti pancaindera, tubuh, atau dunia yang dikontraskan dengan kebajikan atau keinginan rohani. Misalnya tidak melihat keindahan tubuh wanita, tidak mengumpulkan harta benda, tidak makan daging dan makanan lezat lainnya, dan lain-lain.
Kedua ialah tipe asketisme total. Asketisme total ialah teori yang mengharuskan penolakan semua keinginan tanpa kecuali. Misalnya, tidak boleh makan daging, bersantai, memakai pakaian halus, dan lain-lain.
Ketiga ialah tipe asketisme moderat. Asketisme moderat ialah teori yang mengharuskan menekan satu keinginan sejauh relevan dengan kebutuhan hidup ini. Misalnya, minum anggur dibolehkan asalkan memang dibutuhkan demi kesehatan tubuh.
Keempat ialah tipe asketisme ekstrem. Asketisme ekstrem ialah teori yang menihilkan keinginan secara total. Tipe ini berkembang di Siria dengan tokoh-tokoh yang menyiksa diri dengan cara yang mengerikan.[9]
Tipe yang menonjol dan bertahan lama dalam kehidupan gereja ialah tipe moderat. Tipe ini dirumuskan oleh Clemens dari Aleksandria, Origenes dari Aleksandria, Augustinus, Antonius, Pakhomius, Basilius, Benediktus dan lain-lain. Mereka melatih diri mereka dengan cara mengendalikan diri mereka, sehingga diri mereka berguna bagi orang banyak dan bahkan menjadi garam dan terang bagi masyarakat di sekitar mereka dan bahkan pada zaman mereka. Mereka mengendalikan tubuh dan tidak menghancurkannya, mereka berada di dunia dan tidak menjauhinya.
Jadi, ada dua konsep yang berbeda mengenai asketisme. Pertama, pendisiplinan tubuh agar mampu melakukan hal-hal yang baik. Kedua, ketidakpercayaan pada tubuh. Bagi yang kedua ini, latihan bukan untuk membuat tubuh berdisiplin, melainkan untuk menghancurkannya.
Sejarah Asketisme
Asketisme pertama sekali dipakai di dalam filsafat Stoa. T.C. Hall menguraikan bahwa di hampir semua agama dan kebudayaan terdapat ide dan praksis asketis. Misalnya, dalam kebudayaan kuno, terdapat latihan-latihan untuk memasuki kehidupan pernikahan. Latihan-latihan diberikan supaya orang yang dilatih tersebut dapat menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Latihan-latihan tersebut diberi nama askese. Di dalam kebudayaan dan agama India dan Persia, bentuk-bentuk asketisme telah lama diterima. Bahkan di India, ide dan praksis askese telah lama dikenal dan sangat luas diterapkan. Konsepsi dasar India tentang asketisme ialah keinginan melepaskan diri dari samsara, suatu lingkaran yang menguasai kehidupan manusia.[10] Menurut Schaff, sistem askese adalah esensi dari Brahmanisme dan Buddhisme, dua cabang agama India yang dalam banyak hal berhubungan satu dengan yang lain.[11] Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa asketisme model India adalah asketisme ekstrem yang memandang tubuh jahat dan harus dihancurkan.
Ide dan praksis puasa, penyesalan diri, penyiksaan diri, dan larangan seks yang terdapat dalam sebagian tradisi Yudaisme, tidak dapat disebut sebagai askese, karena hal itu mereka lakukan bukan sebagai latihan yang dilakukan secara sadar untuk mengendalikan tubuh dan jiwa, melainkan sebagai peraturan yang dilakukan dengan keterpaksaan. Ide dan praksis askese dalam kehidupan umat Israel timbul dalam perjumpaannya dengan agama Timur dan kebudayaan Yunani. Tokoh yang memadukan Yudaisme dengan kebudayaan Yunani ialah Philo dari Aleksandria. Philo memperkenalkan dualisme antara Tuhan dan dunia yang dijembatani oleh Logos. Dualisme tubuh dan roh dijembatani dengan hidup merenung, dan dengan itu roh akan dibebaskan dari tubuh dan naik ke tingkat ilahi. Philo juga melaporkan tentang kaum Eseni yang menunjukkan kehidupan askese, seperti tampak pada makanan dan pakaian Yohanes Pembaptis.
Kekristenan yang dipengaruhi oleh Philo dan Yudaisme mulai mengenal konsep dualisme. Di dalam konsep dualisme inilah mulai dikenal konsep menjauhi dunia dan asketisme berkarakter Timur. Di Mesirlah berkembang konsep menjauhi dunia. Di tempat ini berkembang praksis askese.[12] Akan tetapi, tidak pula dapat dikatakan bahwa asketisme Kristen berasal dari Brahmanisme, Yudaisme, maupun Hellenisme. Oleh karena, asketisme merupakan sentimen keagamaan yang sering muncul pada periode-periode tertentu sebagai tanda keterasingan terhadap dunia ini.[13] Jadi, meskipun terdapat kesamaan ide dan praksis dan interaksi antara asketisme non-Kristen dengan asketisme Kristen, tapi jelas tidak dapat dikatakan bahwa asketisme Kristen lahir dari asketisme non-Kristen.
Menurut F.D. Wellem, penyusun kerangka teoritis pertama asketisme ialah Clemens dari Aleksandria dan Origenes dari Aleksandria.[14] Akan tetapi, Carl Wellman menilai bahwa dasar asketisme terletak pada teologi Athanasius, Gregorius dari Nyssa, Ambrosius, dan Augustinus.[15] Pendapat ini pada prinsipnya tidak bertentangan, karena saling melengkapi satu dengan yang lain. Apa yang dirumuskan oleh Clemens dan Origenes disempurnakan oleh generasi berikutnya.
Eddy Kristiyanto menempatkan asketisme sebagai pramonastisisme yang bersifat spontan, simultan, dan informal.[16] Bentuk formalnya ialah monastisisme yang muncul pada abad ke-4. Kata monastisisme berasal dari kata Yunani monos yang berarti sendiri atau monachos yang artinya bertarak atau selibat. Asal-usulnya dari padang pasir. Pendiri pertamanya adalah Antonius pada abad ke-4. Model monastik yang dirintis Antonius adalah model Monastik-Eremit, yaitu tinggal menyendiri di padang pasir untuk mencapai kesempurnaan. Model Senobit, yaitu hidup berkelompok di tempat-tempat terpencil diperkenalkan oleh “murid” Antonius yang bernama Pakhomius.[17]
W.J. Sheils yang mengedit buku Monks, Hermits, and the Ascetic Traditionmemperlihatkan bahwa ide dan praksis asketis terus bertumbuh di dalam kehidupan gereja. Sheils memperlihatkan bahwa ide dan praksis asketis tidak berhenti di Mesir dan pada masa gereja rasuli saja, tetapi muncul di komunitas-komunitas Kristen lain dan sampai dengan abad ke-20. Saya hanya mengutip tiga contoh ide dan praksis asketis di luar Gereja Katolik. Pertama, ide dan praksis asketis di Gereja Anglikan pada masa Elizabeth I dalam wujud doa dan puasa ketika menghadapi krisis berskala nasional. Kedua, ide dan praksis asketis di Quakerisme Inggris pada pertengahan abad ke-18 dalam wujud kesederhanaan berbicara, bertingkah laku, dan berpakaian. Ketiga, ide dan praksis asketis John Wesley dan Metodisme Inggris pada abad ke-18 dalam wujud sikap kerja keras, kesediaan mengambil sedikit untuk diri sendiri, kerelaan memberi banyak bagi orang lain, dan semuanya dilakukan untuk kemuliaan Kristus.[18]
Asketisme Kristen dan Asketisme Non-Kristen
Asketisme memang bukan khas Kristen karena ide dan praksis itu telah ada sebelum kekristenan lahir dan bahkan terus ada bersamaan dengan asketisme Kristen. Akan tetapi, kita dapat melihat perbedaan yang mendasar antara asketisme Kristen dan asketisme non-Kristen.
Philip Schaff menilai bahwa asketisme non-Kristen berdasarkan pada gnostik-dualistik Yunani maupun manikeisme. Asketisme ini membanggakan nilai roh dan kepuasan diri sendiri. Sasarannya ialah pembinasaan tubuh dan kesenangan panteistik. Sementara itu, asketisme Kristen bangkit dari konflik moral antara roh dan daging. Pengendalian daging dilakukan dengan kerendahan hati dan kasih kepada Allah dan kepada manusia. Perjuangan asketisme Kristen bukan pada pembinasaan tubuh, melainkan pada persekutuan pribadi dengan Kristus yang membuahkan kehidupan yang menjadi berkat bagi sesama.[19]
Meskipun demikian, harus juga diakui bahwa dalam interaksi di antara keduanya telah terjadi peresapan dari konsep asketisme non-Kristen ke dalam asketisme Kristen. Hal ini, tampak pada kehidupan para asket di kekristenan Timur. Penyiksaan dan pembinasaan tubuh secara ekstrem telah menjadi ciri khas asketisme di Palestina dan Siria. Theodorus dari Sirus mendaftarkan riwayat hidup 30 asket di Siria. Para asket ini memperlihatkan cara hidup yang sangat ekstrem. Prinsipnya ialah penekanan, penganiayaan, dan pembinasaan tubuh. Salah satu asket yang terkenal ialah Simeon Stilos yang menghabiskan hidupnya di atas sebuah tiang. Ia menghabiskan waktunya di atas tiang tersebut selama 28 tahun dan biasa tidak makan selama 40 hari.[20] Akan tetapi, apa yang tampak pada asketisme Kristen di Timur tidak dapat mewakili asketisme Kristen. Bahkan yang lebih tepat ialah bahwa asketisme Kristen di Timur merupakan satu bentuk asketisme yang khas di dalam kekristenan sendiri.
Menurut Sinclair B. Ferguson, dasar asketisme terdapat pada Alkitab. Pencobaan yang dialami oleh Yesus di padang gurun adalah model yang diteladani oleh para asket kemudian. Padang gurun adalah tempat yang dipilih untuk menjalankan kehidupan asketis. Menjelang tahun 250, sudah banyak kaum asket yang bertapa di gua-gua di Mesir Tengah. Selanjutnya, gerakan ini meluas menyeberangi dunia Laut Tengah yang dipopulerkan oleh Basilius dari Kaisarea dan Hieronimus.[21]
Eddy Kristiyanto dalam upaya membela kebenaran asketisme dan monastisisme menjelaskan bahwa asketisme Kristen memiliki dasar yang kuat pada kebenaran kitab suci dan motivasi iman yang tulus kepada Yesus Kristus. Sebagaimana orang Kristen mula-mula dengan iman yang tulus menyerahkan nyawanya sebagai martir dan menyerahkan hidupnya sebagai perawan bagi pengantin Tuhan, begitulah juga para asket menyerahkan segenap hidupnya sebagai persembahan yang kudus bagi kemuliaan Tuhan Yesus. Dasar Alkitab asketisme terdapat pada perintah Yesus agar setiap murid-Nya menyangkal diri (Mat. 16:24); perintah kepada orang kaya untuk menjual harta bendanya guna mendapatkan kesempurnaan iman (Mat. 19:21); dan juga kebiasaan Yesus mengundurkan diri ke tempat sunyi untuk berdoa (Luk. 6:12). Beliau menyimpulkan bahwa hidup asketis merupakan mahkota eksistensi kekristenan, bukan penyimpangan apalagi kemerosotan iman sebagaimana yang dituduhkan oleh sekelompok orang.[22]
Mengenal Ide Asketisme Beberapa Tokoh Gereja Lama
Untuk melengkapi pengenalan kita tentang asketisme, maka di bawah ini, saya akan meninjau secara sepintas beberapa tokoh pendiri dan tokoh penting asketisme dan juga monastisisme, seperti Clemens dari Aleksandria, Origenes, dan Augustinus. Tokoh pendiri monastisisme, Antonius, tidak dibahas pada bagian ini karena akan dibahas pada bab selanjutnya. Sebenarnya masih banyak tokoh lain yang memperkenalkan ide dan menerapkan praksis askese. Akan tetapi, ketiga tokoh di atas dianggap sudah dapat mewakili ide dan praksis askese secara umum. Tujuan peninjauan ini ialah untuk memperlihatkan luasnya variasi ide dan praksis para pendiri dan tokoh utama asketisme maupun monastisisme.
Clemens dari Aleksandria (150-215) adalah seorang filsuf Kristen yang belajar dari seorang guru terkenal, Pantaenus di kelas katekisasi di Aleksandria. Ia bersifat moderat dalam segala sesuatu. Ia memandang manusia secara positif dan menolak dualisme Gnostik. Memang manusia harus melatih dirinya untuk menjadi sempurna, tetapi bukan menganiaya dan menghancurkannya. Ia menekankan perkawinan, membolehkan minum anggur yang membuat hidup senang, membolehkan kekayaan, dan tidak vegetarian. Baginya, Allah memberikan segala sesuatu untuk dinikmati. Akan tetapi, semua hal itu harus dijadikan sarana untuk memuliakan Allah.[23]
Clemens dikenal sebagai pembentuk kerangka teoritis pertama mengenai asketisme, karena ia menyusun satu sistem askese yang sangat baik. Dalam bukunya yang berjudul Pædagogus atau Pendidik, ia memberikan petunjuk praktis cara meningkatkan moral orang Kristen. Konsep yang dipakainya bukan dualisme Yunani yang menganggap daging perlu ditekan dan dihukum. Ada tiga bagian asketisme yang diajarkannya. Pertama, suatu latihan untuk kepekaan jiwa. Kedua, suatu dorongan ke arah kesederhanaan. Ketiga, merealisasikan kesatuan dengan Allah. Baginya, semua ciptaan Allah adalah baik. Ia tidak menolak materi, tetapi juga tidak mengidolakannya. Arah dan semua pemikirannya ialah apatheia, ketiadaan keinginan menuju moralitas yang lebih sempurna. Apatheia bukan ketiadaan kesadaran, melainkan kemampuan untuk mengasihi dan membawa jiwa kepada kesatuan dengan kehendak Allah. Ia meletakkan tekanan pada kesederhanaan sebagai aspek utama dari pengalaman keilahian di dalam kehidupan.[24]
Ia merumuskan pemikirannya tentang kehidupan asketisme melalui bukunya yang berjudul Pendidik. Buku ini adalah buku praktis dan bukan buku teoritis yang tujuannya ialah untuk mengembangkan jiwa, untuk melatih suatu kebajikan dan bukan kehidupan intelektual. Sasaran tertingginya ialah membimbing ketaatan dan kepada keserupaan dengan Allah.
Beberapa petunjuk praktis yang terdapat di dalam buku tersebut diuraikan di bawah ini. Instructor adalah gambaran Yesus yang ingin membimbing orang Kristen untuk bebas dari keinginan manusia, karena keinginan manusia adalah dosa yang harus dihapuskan dari dalam diri orang percaya. Pada buku I,Pendidik mengizinkan perkawinan dan persetubuhan. Akan tetapi, semua itu dilakukan bukan untuk memuaskan hawa nafsu, melainkan untuk reproduksi.
Pada buku II, Pendidik mengajarkan tentang motivasi makan, yaitu bukan untuk memuaskan keinginan, melainkan untuk memenuhi kebutuhan; pengaturan minum anggur, yaitu yang dicampur dengan sedikit air dan hanya dilakukan pada saat malam hari dan saat udara dingin; larangan tentang keinginan terhadap barang-barang mahal dan anjuran untuk menjual barang-barang milik pribadi dan membagikannya kepada orang yang membutuhkannya; peringatan untuk tampil berbeda ketika menghadiri sebuah pesta, tanpa rokok, tanpa minuman, dan musik yang penuh nafsu; melatih diri dalam hal tertawa, sehingga tidak menjadi batu sandungan; peringatan agar tidak mengucapkan kata-kata kotor; tentang hidup bertetangga dan peringatan dalam pergaulan agar tidak terjadi skandal; dan pengaturan tentang pemakaian minyak urapan agar tidak dipakai secara sembarangan.[25]
Origenes dari Aleksandria (185-254) adalah seorang sarjana Alkitab yang istimewa dan seorang asketis. Karakternya berbeda dengan gurunya, Clemens. Ia seorang yang fanatik dan intoleran. Ia menerapkan prinsip askesenya secara harfiah dari Matius 19:12, suatu praksis selibat yang tidak asing di antara orang Kristen Aleksandria pada masa itu. Menurutnya, keperawanan adalah mulia, karena sesuai dengan tradisi rasuli. Perempuan lebih rendah daripada laki-laki, akan tetapi mereka bisa mendapatkan kebajikan bila mengabdikan hidup mereka kepada Tuhan.[26]
Askese yang diterapkan oleh Origenes sangat keras. Ia secara radikal mengendalikan dirinya dari segala godaan hawa nafsu laki-laki. Ia menghindari kontak yang tidak perlu dengan perempuan, khususnya murid-muridnya di kelas katekisasi. Ia sangat serius bekerja, menghabiskan waktu malam dengan belajar Alkitab dan berdoa. Bila perlu tidur, ia melakukannya di atas lantai. Ia sering berpuasa, makan hanya sedikit makanan, berjalan tanpa alas kaki, dan banyak hal lain yang hampir menghancurkannya kesehatannya. Sewaktu mengajar di Kaisarea, ia hanya mengambil sangat sedikit gaji untuk pekerjaannya.[27]
Origenes mengajarkan bahwa pada mulanya ada Allah yang dikelilingi oleh para malaikat yang tidak terhitung banyaknya. Dunia dan manusia belum ada. Selanjutnya, semua malaikat itu menjauhkan diri dari Allah kecuali satu. Semakin jauh mereka dari Allah, maka semakin melekat mereka pada sesuatu yang jahat dan buruk, yaitu materi. Begitulah dunia dan tubuh manusia terbentuk. Akan tetapi, Kristus turun dari surga untuk melepaskan semua malaikat atau jiwa yang terkurung di dalam materi itu. Ia mengajarkan kepada para malaikat atau jiwa itu jalan kembali kepada Allah, yaitu dengan memurnikan diri melalui doa, studi, dan beraskese.[28] Jadi, bagi Origenes, askese merupakan cara bagi manusia untuk membebaskan jiwanya dari perbudakan tubuh.
Pikiran Origenes tentang asketisme sama dengan Clemens, khususnya tentang kesatuan mistis. Origenes mengajarkan pentingnya peningkatan rohani melalui pengendalian keinginan daging. Jiwa harus kembali menyatu kepada logos. Itulah satu-satunya alasan dan keunikan asketisme Kristen. Manusia telah tergoda dan jatuh ke dalam kemerosotan. Yesus datang dari kesempurnaan untuk mengangkat manusia yang merosot tersebut. Latihan askese akan mengangkat manusia itu kepada kesatuan dengan Yesus yang sempurna.
Ia membuat suatu hierarki asketis. Pertama, dalam garis rasul, para martir, perawan, dan para asket. Ia mendorong orang Kristen untuk rela berkorban bagi Yesus. Salah satu pengorbanan itu ialah kesediaan untuk hidup membujang. Orang yang menikah dua kali tidak akan mendapat mahkota dalam hidupnya. Sebaliknya, Origenes juga menolak adanya penyiksaan fisik, karena hal itu tidak sesuai dengan ajaran Yesus. Sengsara Yesus haruslah dirayakan sebagai kemenangan.[29]
Ide asketisme Origenes dijabarkannya di dalam bukunya yang berjudul ???? ????? atau Doa dan ????? ???????????? ??? ????????? atau Ajakan untuk Mati Syahid.[30] Origenes berpendapat bahwa penderitaan tubuh akibat penganiayaan tidak lebih dari sebagai luka kecil pada tubuh. Oleh karena itu, ia menempatkan kemartiran sebagai kebajikan yang tertinggi di dalam kehidupan iman Kristen dan diikuti oleh kehidupan selibat. Jadi, asketisme yang dikembangkan oleh Origenes ialah asketisme yang tetap berada di tengah-tengah dunia, tidak mengasingkan diri.
Augustinus (354-430) adalah seorang teolog gereja yang terbesar sepanjang masa. Di samping sebagai teolog, ia juga adalah seorang asket dan pemikir tentang asketisme. Augustinus bertobat dan menjadi Kristen setelah membacaRiwayat Hidup Antonius. Setelah itu, ia menghabiskan banyak waktunya dengan cara membiara. Meskipun pada tahap selanjutnya ia disibukkan dengan tugas-tugas kegerejaan, semangat asketisme dan pemikiran asketisme tetap dipertahankannya.
Di dalam bukunya yang berjudul Confessiones yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Pengakuan-Pengakuan, Augustinus memperlihatkan kerinduannya untuk hidup seturut dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, ia dengan pertolongan Allah akan membersihkan dirinya dari berbagai godaan kedagingan. Ia menyebutkan beberapa godaan, seperti keinginan daging, godaan selera, kerakusan dan kemabukan, godaan penciuman, godaan pendengaran, godaan penglihatan, keangkuhan, pujian, dan gengsi. Untuk melawan semua itu, ia rajin berdoa dan berpuasa. Dasar dari semua praksis asketisnya ialah Sabda Tuhan yang dikutipnya, “Jangan menuruti keinginan-keinginanmu dan jauhkanlah dirimu dari nafsu-nafsumu.” “Kita tidak rugi apa-apa, kalau kita tidak makan dan kita tidak untung apa-apa kalau kita makan.”[31]
Augustinus tidak mendukung para asket mengasingkan diri, tetapi mendorong agar para asket masuk ke dalam gereja dan memperbarui gereja. Menurutnya, gereja sudah hampir tenggelam dalam kehidupan duniawi, sehingga perlu pembaruan dari kaum asket. Ia tidak terlalu menekankan puasa, tetapi memberikan tekanan pada kerja tangan. Oleh karena itu, ketika terjadi protes dari para biarawan di Afrika Utara mengenai pekerjaan itu, Augustinus menegaskan bahwa dengan bekerjalah maka pemeliharaan Allah akan terlihat sempurna. Ia juga menolak askese keras yang memantangkan hal-hal yang bersifat materi. Baginya yang penting ialah kehidupan bersama yang baik. Ia juga menolak asketisme yang dualistis yang berasal dari Manikeisme yang menolak anggur dan daging. Augustinus mengizinkan komunitasnya untuk minum anggur seperlunya dan makan daging pada saat-saat tertentu. Alat makannya sederhana dan pakaian dan tempat tidurnya juga sederhana dan wajar. [32]
Cita-cita asketis Augustinus bersumber dari komunitas Kristen pertama di Yerusalem (Kisah 2:44 dan 4:34).[33] Baginya, komunitas adalah tempat yang tepat untuk mencapai kekudusan hidup. Keadaan saling membagi akan memungkinkan setiap orang untuk mengendalikan keegoisan dan mengembangkan diri sebagai berkat bagi orang lain di dalam komunitas. Menurutnya, biara merupakan reaksi terhadap keduniawian gereja yang haus kuasa, kekayaan, dan kepuasan seksual. Biarawan perlu hadir di gereja untuk membuktikan bahwa gereja dapat berdisiplin.[34]
Kesimpulan dan Relevansi
Dari uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa arti asketisme adalah ajaran tentang pentingnya latihan-latihan rohani dengan cara mengendalikan tubuh dan jiwa, sehingga tercapai kebajikan-kebajikan rohani. Asketisme Kristen tidak menghancurkan tubuh, melainkan mengendalikannya. Tujuannya ialah menyatu dengan Kristus dan mendapatkan kemampuan untuk diabdikan bagi kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama umat manusia.
Meskipun asketisme bukan khas Kristen, namun asketisme Kristen bukan pengembangan dari asketisme non-Kristen. Asketisme Kristen merupakan dorongan hati orang-orang Kristen yang terinspirasi oleh perilaku Kristus dan ajaran-ajaran Kristus yang terdapat di dalam kitab suci. Meskipun terdapat pengaruh-pengaruh asketisme non-Kristen terhadap asketisme Kristen, terutama di Timur, hal itu tidak menjadi representasi asketisme Kristen.
Clemens dari Aleksandria adalah perumus pertama asketisme Kristen. Ia menyusun sejumlah latihan yang secara sistematis akan menghasilkan orang-orang Kristen yang memiliki moral yang baik dan pengendalian diri yang baik pula. Ia tidak menjauhi dunia dan barang-barang dunia. Kekayaan tidak ditolaknya, tetapi tidak pula dibanggakannya. Origenes sebagai pelopor asketisme yang berikutnya memberikan tekanan yang lebih keras. Ia meninggikan kemartiran dan bahkan bagi dirinya, ia menerapkan selibat. Meskipun demikian, ia tidak menjauhi dunia tetapi dengan keras menerapkan kehidupan asketis dengan cara menekan dengan keras tubuhnya, seperti tidur di lantai, berjalan tanpa alas kaki, banyak berpuasa, dan lain-lain.. Augustinus, tokoh berikutnya yang telah menerima asketisme dalam bentuk formalnya, yaitu monastisisme juga menekankan hal yang sama, yaitu tidak menjauhi dunia, melainkan menjadikan dunia sebagai panggung untuk menguduskan diri. Ia juga tidak menekankan kemiskinan, puasa, dan penyiksaan badan. Augustinus menekankan makna persekutuan, sebagaimana yang terdapat pada persekutuan orang Kristen pertama di Yerusalem.
Asketisme atau teologi penyangkalan diri relevan untuk kekristenan Indonesia masa kini yang sedang menghadapi modernisme, materialisme, dan hedonisme. Teologi kemakmuran yang dihadirkan untuk mengakomodasi impian dan harapan manusia harus diuji kembali. Di tengah-tengah negeri dengan pola keberagamaan yang menekankan ritualistik dan humanistik lebih daripada teologi menjadikan asketisme lebih relevan. Oleh karena itu, supaya orang-orang Kristen di Indonesia mampu menjadi atlet rohani yang baik dan mampu memenangkan pertandingan dalam bentuk kesanggupan untuk menjadi garam dan terang bagi bangsa ini, maka asketisme atau latihan penyangkalan diri perlu dijemaatkan dan diterapkan.
Daftar Pustaka
Augustinus, Pengakuan-pengakuan, (Terj. Winarsih Arifin dan Th. van den End),
(Yogyakarta dan Jakarta: Kanisius dan BPK Gunung Mulia), 1997.
Bosch, David J. Tranformasi Misi Kristen, Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan
Berubah, (Terj. Stephen Suleeman), (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. ke-3),
2000.
Burton-Christie, Douglas .The Word in the Desert, Scripture and the Quest for Holiness
in Early Christian Monasticism, (New York: Oxford University Press), 1993.
Cyrrhus, Theodoret of. A History of the Monks of Syria, (Grand Rapids: Cistercian
Publications), 1985.
Darmaputera, Eka. Terbit Sepucuk Taruk, (Jakarta: P3M STTJ Balitbang PGI), 1993).
Edwards, Paul (ed.), The Encyclopedia of Philosophy Vol. 1, (New York: Macmillan
Publishing Co.), 1967.
Eliade, Mircea (ed.), The Encyclopedia of Religion Vol. 1, (New York: Macmillan
Publishing Co.) 1976.
Frend, W.H.C. The Rise of Christianity, (Philadelphia: Fortress Press), 1984.
Hastings, J. (ed.): Encyclopedia of Religion and Ethics, Vol. II, (New York: Charles
Scribner’s), 1951.
Kristiyanto, Eddy. Sahabat-Sahabat Tuhan, Asal Usul dan Perkembangan Awal Tarekat
Hidup Bakti. (Yogyakarta: Kanisius) 2001.
Possidius. Kehidupan Augustinus. (Terj. Br. Kees Kappe). (Yogyakarta: Penerbit
Kanisius), 1987.
Roberts, Alexander dan James Donaldson (eds.). Ante-Nicene Fathers, Translations of