oleh: Pdt. Prof. Joseph Tong, Ph.D.
Makalah ini membahas tentang masalah umum yang terjadi dalam pelayanan mimbar kontemporer di mana seorang pendeta setelah membaca Kitab Suci langsung terbang landas seperti sebuah pesawat and munyusun sebuah nats khotah dengan menyebutkan kesaksian pribadi atau kesaksian lainnya, berita-berita surat kabar dan informasi, kadang akang juga memakai atau mengutip ayat-ayat dari berbagai bagian Kitab Suci, mengunakan semuanya kecuali teks yang telah dibaca. Deminiaklah, ia meninggalkan gereja dengan kekuatiran tinggi. Tujuan penulis adalah untuk memusatkan dan menjabarkan salah satu aspek dalam rangka prosess persiapan khotbah ekspositori, yang disebut dengan lectio divina, yaitu pembacaan Kitab Suci ilahi mengingatkan semua pelayan Firman agar mengambil Firman yang dibaca itu dengan hikmat and cermat dalam menjalankan tugas pemberitaan Firman Tuhan denang serius.
I. Dasar-dasar Pelayanan Mimbar
Secara umum, khotbah pada kebaktian hari minggu dalam gereja tradisional selalu difokuskan pada pemberitaan dan penyampaian Firman Tuhan, jauh lebih dari pada tata cara keagamaan. Kenyataannya, semua tata cara ibadah sebenarnya hanya sekadar tanda-tanda yang kelihatan dan simbol dari Firman Allah yang tidak kelihatan, tujuan mereka adalah untuk menekankan makna dari Firman yang tidak kelihatan dalam konteks sematik untuk membuat kesan yang lebih kuat. Untuk itu, kita menegaskan kembali makna dari kebenaran dalam hati dan pikiran manusia melalui surat dan bahasa untuk mengwujudkan “kesatuan mistik” antara manusia dan Allah melalui Firman. Dengan demikian, manusia dapat mengalami Allah dengan kehadiran Firman Allah di antara manusia dan “tinggal di dalam kita” (Yoh 1:14). Jelas bahwa dasar pelayanan mimbar adalah komukasi Firman kepada umat-Nya.
Untuk itu, di tengah-tengah ibadah, Firman disampaikan oleh pelayanan Firman. Dengan kata lain, penyampaian Firman Tuhan menjadi sesuatu corak yang spesifik bagi komunikasi kerohanian, yang secara umum dimengerti dan disebut: Khotbah Firman Tuhan
Tujuan dari berkhotbah kemudian menjadi sangat jelas yaitu untuk menyampaikan Firman Tuhan dengan jelas. Sekalipun kita percaya bahwa Firman Tuhan selalu hadir di mana saja dan diberikan pada saat apa saja, akan tetapi Roh Kudus telah memberi kesaksian bahwa Firman Tuhan adalah sebuah wahyu khusus yang dilengkapi dengan karya inspirasi Roh Kudus. Di dalam kewujutan inilah Allah mempercayakan suara dan kehendak-Nya yang sempurna bagi semua generasi. Secara historis, gereja telah mengambil sebuah posisi dan menyadari bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan, fondasi utama dan sumber yang efektif dari pesan ilahi. Oleh karena itu, ketika seorang pelayan Firman menyiapkan khotbahnya, dia tidak dapat melakukannya seturut dengan kehendaknya sendiri, mengumpulkan bahan dari sini dan dari sana, membuat khotbah hanya seperti komposisi tulisan biasa. Akan tetapi dia harus dengan sabar dan saleh menantikan suara Allah, agar dia dapat menyampaikan Firman dengan jelas ketika dia berdiri di mimbar. Dengan kata lain, dia harus memiliki pesan sebelum dia dapat menulis sebuah khotbah, dan pesan tersebut diperoleh melalui sebuah proses ekspositori yang berhati-hati dari teks yang dia baca.
II. Eksposisi dalam Pelayanan Khotbah
Meskipun membaca Alkitab sebelum berkhotbah bukan merupakan suatu keharusan dalam ibadah public, akan tetapi hal tersebut telah menjadi sebuah sebuah tradisi baku bagi sebagian besar gereja injili. Pada umumnya, seorang pendeta tidak akan dengan sengaja berkhotbah tanpa membaca Alkitab. Karena alasan inilah, sebagian besar pendeta selalu memilih sebuah pasal dari Kitab Suci untuk dibaca sebelum dia berkhotbah dengan tujuan untuk menghindari orang menyebut dia sebagai pendeta yang memiliki kecenderungan sebagai penentang. Akan tetapi, beberapa orang melakukan hal ini hanya untuk formalitas dan segera setelah itu ia terbang landas. Beberapa dari mereka bahkan menyadari bahwa Kitab Suci adalah Firman Allah dalam bentuk logos, di mana khotbah mereka adalah firman Allah di dalam bentuk Rhemma. Khotbah mereka tidak ada hubungannya dengan teks yang dibaca. Sikap sedemikian merupakan penghinaan kepada Kitab Suci, sebuah praktek yang mengkuatirkan serta membawa perhatian dan penghinaan yang besar bagi gereja. Kenyataannya, bahkan bagi kalangan theolog theolog yang bependapat bahwa Firman Tuhan tidak terbatas di dalam Alkitab, antaralain Karl Barth, salah seorang theolog besar pada zamannya, masih tidak berani berkhotbah dengan cara dem inikian, bagaimana bisa seorang pendeta injili melakukan sebuah praktek murahan dengan meninggalkan Kitab Suci yang telah dia khotbahkan. Di samping ketidakpercayaan, antara sebab sebab mengapa pendeta tidak berkhotbah secara ekspositori adalah: 1) Tidak menghargai Kitab Suci, 2) Tidak mengerti arti dan makna dari Kitab Suci, dan 3) kekurangan pengetahuan tentang prinsip-prinsip eksposisi.
Seseorang yang tidak berkhotbah dari teks yang telah dia baca sebenarnya tidak menghargai Kitab Suci. Banyak pengkhotbah yang mulai dengan ide mereka sendiri dalam pikiran mereka kemudian pergi ke Alkitab untuk menemukan teks yang sesuai dengan ide tersebut. Mengambil teks tersebut sebagai batu loncatan ini adalah sebuah indikasi terhadap ketidak mengertiannya terhadap Alkitab secara komprehensif. Natur holoscopic dari Alkitab menjamin bahwa sebagian dari Alkitab memang mewakili pesan secara keseluruhan dari Alkitab untuk menyampaikan seluruh pesan Allah. Prinsip-prinsip penafsiran dari reformasi mengatakan bahwa satu bagian dari Kitab Suci harus berada dalam terang keseluruhan Alkitab, sedangkan keseluruhan Alkitab sudah harus dimengerti di dalam terang bagiannya, Inilah yang disebut dengan prinsip Scritura Scripturae intepres, ini merupakan sebuah catatan jelas dari pengertian holoscopic atau holographic mengenai Kitab Suci. Untuk alasan semacam inilah, ketika seorang pengkhotbah membaca sebuah teks, dia tidak boleh meninggalkan teks tersebut, dan kenyataannya, dia tidak seharusnya meninggalkan pasal tersebut untuk menguraikan tentang kehendak Allah. Karena bagian dari Kitab Suci itu sendiri mamang sudah berisi keseluruhan pesan Allah, apabila ia mempelajarinya dengan baik. Hal itu terjadi bukan karena kekurangjelasannha akan tetapi merupakan sebuah indikasi bahwa orang tersebut telah memutuskan untuk tidak mengikuti prinsip eksegese dan seolah olah sengaja melakukan eisegese untuk disesuaikan dengan agendanya sendiri, membuktikan bahwa dia tidak menghargai Kitab Suci dan menghina pekerjaan Roh Kudus.
Kenyataannya, sebab yang paling penting mengapa seorang pendeta tidak melakukan khotbah ekspositori adalah kegagalannya dalam menerapkan pengetahuan ekspositori dalam penafsiran biblika. Khotbah ekspositori mulai dengan proses dari teks kemudian diikuti dengan menerapkan prisip di dalam teks, berbicara kepada jemaat sekalipun ada interaksi pesan antara apa yang telah Allah katakan (eksegeses) dan apa yang sedang Allah katakan (eksposisi) di dalam Kitab Suci. Dengan kata lain, seorang pendeta perlu meluangkan waktu dan melakukan banyak sekali usaha, selain kemampuan yang baik serta latihan dalam menyiapkan khotbah. Artikel ini akan berkonsentrasi kepada penekanan dari lectio divina sebagai tingkat pertama persiapan khotbah ekspositori.
III. Lectio Divina dalam Proses Khotbah Ekspositori
Lectio divina (pembacaan ilahi) atau lectio sacra (pembacaan yang kudus) terhadap Kitab Suci, merupakan sebuah praktek umum dari bapa-bapa padang gurun gereja pada zaman dahulu, sebenarnya hal ini didasarkan pada Kisah Rasul 8:26-39, yang mengindikasikan bahwa pembacaan Kitab Suci perlu dijelaskan. Kemudian hal ini dikembangkan ke dalam praktek formasi spiritualitas melalui pembacaan devosional untuk mengalami Allah dalam pembacaan yang diulang, meditasi, doa dan kontemplasi. St. Benedict kemudian menyempurnakannya dan menyusunnya dalam peraturan order Benedictine sebagai praktek hidup sehari-hari bagi para biarawan dalam formasi spiritualitas mereka.
Lectio divina merupakan sebuah praktek yang ketat dalam spiritualitas pribadi dengan tujuan bahwa seseorang harus bertemu Tuhan dalam pembacaan Kitab Suci dan harus bertumbuh dengan baik melalui Firman Allah, oleh karena itu, dalam praktek semacam ini, seseorang yang mendekatkan diri kepada Tuhan akan mengalami kehadiran-Nya dalam kehidupan nyata. Berikut ini dengan jelas akan dipaparkan praktek dari monastic lectio divina dan prinsipnya yang kami diadaptasikan untuk proses persiapan khotbah ekspositori.
1. Fondasi dari lectio divina
Lectio divina mengasumsikan bahwa Kitab Suci merupakan peraturan tunggal dalam hidup dan pembacaan Kitab Suci merupakan tindakan dari seseorang yang berdiri di hadapan Allah, hal ini mirip dengan pengalaman seseorang yang datang dalam meja Tuhan dalam sebuah persekutuan/perjamuan yang kudus, yang mengalami kehadiran Allah yang mistik. Memang teks membawa pesan Allah, yang bisa membawqa ajaran doktrinal, moral dan etis, akan tetapi kapan pun kita menemukan berita pesan Tuah dalam teks itu, maka pesan and firman tersebut akan mencapai tujuannya yang membawa kita untuk bersatu sejati dengan Allah. Sehingga dalam proses pembacaan kita, kita dikuasaii cinta tuhan and mencintai Kitab Suci, bermeditasi seputar Kitab Suci, sehingga Firman Allah menyerap dalam jiwa kita dan bersuara kembali dalam pikiran kita.
Ketika kita membaca Kitab Suci dengan perilaku semacam itu, maka teks Alkitab tidak lagi hanya merupakan sekadar sebuah informasi dalam berita, akan tetapi menjadi pesan berita Firman Allah yang hidup bagi kita, secara subyektif dan imaginatif. Dengan demikina, kita lalu menjadi salah satu subyek dalam layar keadaan setempat, untuk merasakan bersama-sama mereka yang berada pada saat teks tertulis, untuk mendengarkan suara yang sama, dan untuk mengalami dna hidu hidup dalam konteks yang sama seperti para pembaca/pemdengat pertama. Kita kemudian tidak hanya mengerti isi dan arti dari teks tersebut, tetapi lebih dari itu, kita dapat menyesiaikan diri terhadap teks dan mengidentifikasikan diri dengan teks untuk mengalami efek perassan ber-“rumah” dengan pendengar pertama. Dengan demikina, secara konsekuen, kita “bukan lagi termasuk orang asing atau orang luar. Kalian sekarang adalah sama-sama warga umat Allah. Kalian adalah anggota-anggota keluarga Allah.” (Efesus 2:19) Kida dapat mengambil satu langkah ke depan, dan menemukan bahwa kita adalah bagian dari mereka dan mengambil bagi diri kita sendiri karakter dan sikap mereka untuk memberi respon terhadap panggilan Allah dan meyakini janji-janji Allah yang digenapi bagi umat Allah, karena Firman diberikan kepada umat-Nya di semua tempat dan waktu.
Di dalam lectio divina, kita juga mengalami arti sebenarnya dari theologi. Kita dapat masuk ke dalam hikmat dan sistem pewahyuan Allah yang mana hati kita diresapi oleh Firman Allah. Dalam hal ini, Firman tersebut telah masuk dan tinggal di dalam kita, menjadi sebuah kaca dan sebuah ujung tombak bermata dua untuk melawan dosa, untuk mendorong pekerjaan baik, dan untuk menyucikan kita. Membawa kita secara rendah hati dan beriman kepada hikmat Allah. Hikmat-Nya kemudian memperjelas pikiran kita untuk mengetahui dengan pasti bahwa kita akan dipelihara dengan baik serta seluruh level dalam kehidupan kita diterangi. Harus dicatat bahwa sekalipun lectio divina dalam level semacam ini secara murni adalah personal, akan tetapi tetap berada dalam terang natur secara komunal dan holistik dari Kitab Suci. Seorang pendeta harus bertindak sama seperti seorang pemazmur, sebagai perwujutan persekutuan bersma dalam dirinja. Dan dalam persiapan khotbahnya, dia, dalam kenyataannya, berdiri di depan Allah mewakili jemaat, untuk menerima pesan yang Allah ingin berikan bagi umat-Nya. Apabila seorang pendeta diberi makan dengan baik maka dia dapat memberi makan domba-dombanya. Ini akan menolong para pengkhotbah untuk berkhotbah dengan baik.
2. Langkah-langkah dasar dalam lectio divina
Secara umum ada 4 langkah dasar dalam lectio divina, yang disebut, lectio (membaca), meditatio (meditasi), oratio (doa), dan contemplatio (kontemplasi):
a. Lectio
Ini merupakan sebuah pembacaan Kitab Suci yang lambat, diulang-ulang, berhati-hati, dengan iman, kedamaian dan konsentrasi. Baca dan ulangi setiap kata dengan penuh perhatian dengan penghormatan kepada Allah. Biarkan Kitab Suci masuk ke dalam hati dan pikiranmu. Hal ini merupakan sebuah cara pengulangan, memori diaktifkan untuk menyerap seluruh teks dan mengangkat jiwa ke tingkat ke dua dari meditasi.
b. Meditasi
Ketika seseorang berrada pada tingkat pengulangan pembacaan, fungsi memori diaktifkan untuk memaksa pikiran ke dalam tingkat meditasi untuk merefleksikan dan mempertimbangkan kata-kata ini yang berdiri dalam pikiran kita. Dalam meditasi, pikiran akan berasosiasi langsung dengan pengalaman pribadi dengan mengingat orang dan situasi yang dialami yang memperoleh kesan. Pada saat tersebut, sebuah hubungan tersusun antara diri sendiri dengan orang dan hal-hal yang ada dalam konteks dari teks tersebut untuk menekankan arti dari teks di dalam pikiran. Internalisasi kemudian muncul untuk mempertegas sebuah formasi spiritualitas.
c. Oratio
Dalam meditasi, teks tersebut secara peribadi personal diinternalisasikan (dihayati), orang tersebut kemudian dalam sebuah kondisi di mana seseorang secara otomatis akan memiliki hati yang penuh dengan ucapan syukur, kerendahan, pujian, penyesalan yang dalam, permohonan dan petisi. Pujian dan penyembahan akan mengikuti untuk membuat kita berbicara kepada Allah dengan cinta dan kasih sayang di dalam hati kita. Dalam doa, kerinduan akan Allah, akan membuat cinta dan kasih sayang kita kepada Kristus bertumbuh dan berkembang.
d. Contemplatio
Sebagai karunia anugerah dari Allah, kontemplasi merupakan hasil dari doa-doa yang dalam. Ketika kita sampai pada tingkat ini, roh kita rindu untuk bersatu dengan Allah dan hal itu digenapi di dalam doa. Di sini kita mengalami keharmonisan di dalam hati, mengasingkan diri untuk berdiri di hadapanan Allah, telanjang tanpa penutup. Penyembahan semacam ini merupakan tingkat yang tertinggi, tanpa kata dan tanpa bentuk, kita dilayakan oleh Firman Allah untuk duduk dengan Allah dan senang dalam kasih-Nya. Di sini kita memancarkan gambar dan rupa Allah di dalam diri kita.
Keempat praktek dalam lectio divina tidak bekerja secara individu, khususnya tahap berdoa yang merupakan salah satu tahap terpenting diantara ke empat tapah ini. Doa sebenarnya meresapi ketiga praktek lainnya untuk mendorong kita ke depan. Di sampingitu, ternyata semua langkah langkah ini hanya dapat berfungsi apabila dipusatkan pada teks alkitab yang menjadi pokok dan dasar ekspresi dari lectio divina.
3. Lectio divina dan khotbah ekspositori
Seperti yang telah dijelaskan di atas, khotbah ekspositori harus didasarkan pada Kitab Suci yaitu menggali dan membawa keluar arti sesungguhnya dari Kitab Suci di tengah-tengah konteks dan kerangka primordial dari keseluruhan Alkitab. Berdasarkan pengertian keseluruhan dan komitmen terhadap sifat holoscopic dari Kitab Suci itulah, hal ini menjadi sangat penting dalam berkhotbah. Berdasarkan pengetahuan yang semacam ini, khotbah ekspositori menjadi sebuah tugas yang sangat penting bagi para pengkhotbah. Uraian berikut ini merupakan prosedur penerapan yang konkrit dari lectio divina dalam khotbah ekspositori.
a. Pembacaan Kitab Suci secara intensif dan ekstensif
Pembacaan Kitab Suci secara intensif merupakan langkah pertama dalam penerapan lectio divina dalam khotbah ekspositori. Ini merupakan praktek pembacaan Kitab Suci kata demi kata yang dilakukan dengan hati-hati dan penuh perhatian, pengulangan pembacaan dengan diam dan refleksi sampai seseorang dapat merasakan isi dan makna dari teks sesuai dengan konteks dan mampu memahami dan mengingatnya apabila diperlukan. Sebagai tambahan terhadap praktek semacam ini, pengkhotbah kemudian masuk ke dalam pembacaan yang ekstensif melalui studi secara cermat tentang kata dan bahasa yang digunakan untuk mengkomprehensikan nuansa dan ketazaman Firman dalam bahasa manusia dalam konteks sejarah serta dalam tradisi sosio-kultural. Hal semacam ini merupakan sebuah aplikasi dari keahlian hermenetik dalam eksegese, yang di dalamnya termasuk sebuah penelitian dalam penafsiran dan karya-karya orang lain terhadap pelajaran sejarah gereja sebagai sebuah pengalaman membagikan kekayaan warisan kristiani.
b. Pengalaman persekutuan dan peneguhan komunitas gerejani
Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, khotbah ekspositori berbeda dengan perenungan pribadi. Ketika lectio divina diterapkan dalam persiapan khotbah ekspositori, pendeta mewakili gereja secara keseluruhan berdiri di hadapan Allah untuk menantikan Dia dan mendengarkan perintah-Nya bagi gereja secara keseluruhan. Kita tahu bahwa pesan mimbar tidak pernah secara individual, oleh karena itu pengalaman keperhatian pribadi dan penonjolan diri tidak sepenting pengalaman persekutuan komunal. Untuk itu seorang pendeta harus berdiri di hadapan Allah, sadar sepenuhnya akan tingkatan spiritual dari jemaatnya dengan hati yang berempati, untuk menantikan Allah memberikan pesan-Nya bagi umat-Nya. Dengan melihat kepada Alkitab yang terbuka, dia harus mempelajari Kitab Suci dengan sungguh-sungguh untuk meneguhkan pengalaman komunal dari pesan Kitab Suci serta relevansinya bagi jemaat.
Secara umum, berdasarkan kenyataan bahwa seorang pendeta terus-menerus berhubungan dengan jemaatnya dalam hal permohonan, pelawatan, perhatian kependetaan dan perhatian pastoral terhadap kondisi kerohanian dari jemaat, sebenarnya, dia berada dalam saat menantikan Allah, mewakili seluruh jemaat, seperti yang selalu dilakukan oleh Pemazmur dalam doa dan penyembahan-Nya, untuk mewujudkan eksistensi dan perasaan total dari umat Tuhan. Pengalaman yang seperti ini bukan lagi menjadi pengalaman personal, akan tetapi pengalaman komunal yang meneguhkan sebuah realitas yang tidak dapat berubah bahwa Allah hadir dalam tingkatan persiapan dari khotbah ekspositori. Dalam hal ini, dia benar benar telah menerima pesan dari Allah bagi gereja dan dapat menyampaikan pesan tersebut bagi umat Allah. Ini merupakan tempat yang jelas di mana lectio divina dalam khotbah ekspositori berbeda dari lectio divina dalam praktek monastic.
c. Doa dan peneguhan dari Pesan
Dalam perenungan pribadi, doa merupakan persekutuan dan komunikasi langsung dengan Allah. Dala konteks itu, doa merupakan komitmen dan kepercayaan diri yang total di dalam Allah. Namun dalam khotbah ekspositori pastoral, doa merupakan sikap persiapan dari seorang pendeta dalam pemujaan dan komitmennya yang total kepada Allah serta pesan yang telah Allah berikan bagi dia, untuk disampaikan dengan penuh rasa percaya diri dalam kehadiran dan melalui Firman. Sebuah sikap doa dinyatakan oleh seorang pendeta yang mensintesiskan serta menerapkan prinsip pengajaran Kitab Suci ke dalam bentuk pesan untuk memperbarui iman dan praktek di dalam gereja. Bersama dengan hakekat dan sifat holoscopic dari pesan biblika, dia dengan hati-hati meneguhkan isi dari pesan tersebut yang disesuaikan dengan tema utama dari Kitab Suci dan dengan berani menyampaikan khotbahnya di atas mimbar.
d. Formulasi khotbah dan penyampaian pesan
Ini merupakan puncak dari khotbah ekspositori di mana seorang pendeta mengikatkan dirinya kepada Allah dan Firman Allah. Mengulangi pembacaannya terhadap Kitab Suci dengan cermat serta berkomitmen terhadap Firman Allah, dia menyampaikan pesan melalui teks and pasal yang telah dipilih untuk memproklamasikan Kristus serta menguraikan pengajaran-Nya sehingga gereja akan menerima berkat, pemeliharaan, penghiburan, serta peringatan.
IV. Kesimpulan
Sudah pasti, khotbah dan pidato memiliki banyak kemiripan, akan tetapi mereka juga memiliki banyak sekali perbedaan. Dalam Amanat Agung dinyatakan bahwa Kristus memberikan indikasi kepada para murid sebelum Dia naik ke surga tentang perbedaan antara khotbah/pemberitaan Indjil dan pengajaran. Singkatnya, sebuah khotbah menekankan pesan, sedangkan pengajaran menekankan kepada organisasi sistematika dari kebenaran serta aspek doktrinal dari kebenaran. Oleh karena itu, selalu ada pengajaran doktrinal dalam sebuah pesan, dan pesan juga menjadi pengajaran doktrinal. Kapan saja seorang pendeta berdiri di atas mimbar, dia akan selalu berhadapan dengan tantangan, apakah mereka harus mengikuti Kitab Suci yang telah dibaca dengan hemat, cermat dan penuh perenungan, untuk menguraikan pesannya yang telah diterima kepada jemaat, atau meninggalkan Kitab Suci yang telah dibaca dan berpetualang ke perjalanan penggaliannya sendiri untuk mempresentasikan apa yang menjadi pemikirannya. Hal ini sangat penting yaitu, apakah dia benar-benar percaya bahwa pasal dan teks yang telah dia baca mewakili seluruh Firman Allah bagi umat-Nya dalam konteks sebuah pengertian sifat holoscopic dari Kitab Suci serta bahwa pesan dalam pasal tertentu tersebut kenyataannya merupakan Firman Allah pada waktu tertentu yang tidak terbatas oleh waktu bagi jemaatnya yang ada di depan dia. Tentunya hal ini juga tergantung apakah pengkhotbah telah membuktikan diri sebagai orang yang siap untuk mengikatkan diri dengan Kitab Suci yang baru saja dia baca. Berdasarkan komitmen dan pengertiannya terhadap natur holoscopic dari Alkitab itulah, dia mempercayakan dirinya sendiri kepada Kitab Suci yang ada di depan dia dan dengan setia bisa menangani Firman dengan baik, untuk menyampaikan Firman kebenaran dari Alkitab kepada jemaat, untuk membuktikan bahwa dia adalah seorang pelayan Tuhan yang tidak dipermalukan.
Sumber:
Artikel di Crystal Cathedral Indonesian Fellowship.
Profil Dr. Joseph Tong:
Pdt. Prof. Joseph Tong, Ph.D. adalah adik kandung Pdt. Dr. Stephen Tong. Beliau adalah Presiden dari International Theological Seminary, USA; Rektor dan Profesor: Theologi Filsafat, Theologi Sistematika, dan Theologi Praktika di Sekolah Tinggi Theologi Bandung. Beliau meraih gelar Bachelor of Theology (B.Th.) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Bachelor of Arts (B.A.) dari Calvin College, USA; Master of Theology (M.Th.) dari Calvin Theological Seminary, USA; Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari University of Southern California, USA; dan Master of Business Administration (M.B.A.) dari Graduate Theological Foundation, Indiana, USA.