Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.
Kita adalah hamba dari dosa, karena itu seluruh hidup kita adalah milik dosa yang harus berbakti atau melayani keinginan-keinginannya yang jahat. Dalam keadaan demikian seluruh anggota tubuh kita adalah alat yang dipakai sebagai senjata kelaliman. Tapi itu dahulu; hal itu telah berlalu. Dalam Yesus Kristus Allah telah menebus kita dengan harga yang sangat mahal, yaitu darahNya yang Mahakudus. Oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus kita ditebus dari perhambaan dosa dan menjadi orang yang merdeka. Sekarang kita adalah orang yang benar-benar merdeka! (Yoh 8:36) Allah lebih daripada seorang tuan yang menebus atau memerdekakan seorang hamba. Dia tidak hanya memberikan kita kemerdekaan tetapi Dia juga mengangkat kita menjadi anak-anakNya (lih Rom 8:15-16 ; Gal 3:26) Dia tidak hanya melepaskan kita dari ikatan perhambaan melainkan juga memulihkan hidup kita. Dia tidak hanya merobah status kita sebagai milik dari “tuan yang jahat” tetapi juga menjadi pemilik/pewaris atas harta termahal dari Bapa Khalik langit dan bumi. Dia tidak hanya memberi kita kehidupan sekarang tetapi juga kehidupan kelak. RumahNya sendiri diwariskanNya kepada kita. Bukankah ini hadiah terbesar yang pernah kita terima dalam hidup kita! Dari seorang hamba dosa – ditebus dengan darah mahal – menjadi orang merdeka – diangkat menjadi anak Allah – pewaris atas harta sorgawi Bapa – Kehidupan yang kekal. Apakah yang akan kita lakukan sebagai bukti dari rasa syukur dan terimakasih kita atas anugerah ajaib ini??? Bukankah sepantasnya kita membaktikan diri dengan ikhlas dan sukacita menjadi hambaNya dalam kerajaanNya. Kendati kita sudah membaktikan diri kepadaNya itu juga belumlah cukup dibandingkan dengan apa yang telah Dia perbuat bagi kita. Ironis sekali banyak orang malah tidak tahu mengucapkan terimakasih. Ibarat hamba yang tidak tahu diuntung. Sudah dimerdekakan, dijadikan sebagai anak dan pewaris atas kehidupan yang kekal bukannya menyerahkan hidupnya menjadi alat kebenaran bagi kemuliaan Bapa, malahan mendukakan hati Bapa. Hidupnya tidak berbuah kebenaran melainkan kelaliman. Nats ini mengingatkan kita agar tidak menjadi hamba yang tidak tau diuntung, tidak tahu berterimakasih tetapi hamba selalu yang bersyukur dan melayani Tuhan dengan setia sepanjang hidup kita. Amin.