SUMBER KRISTEN: ARTIKEL TEOLOGIA

melayani jemaat dan hamba Tuhan

 Home Hubungi Kami Pengakuan Iman Kotbah Sermon Mimbar Gereja Artikel ilustrasi Humor ebooks Kursus Teologia Clip Arts Power Point Direktori

www.sumberkristen.com

 

 

TAHUN BARU IMLEK (1)

Tahun baru Imlek (Sin Chia) bagi orang Tionghoa adalah bagian dari budaya leluhur, dan bagi masyarakat Tionghoa budaya bukan sekedar bagian dari produk interaksi sosial tradisi turun temurun tetapi dalam masyarakat premordial Tionghoa yang sangat kental mempercayai animisme dan pantheisme (penyembahan alam), maka tahun baru bukan sekedar ritual tahunan bulan (lunar) dan secara budaya saja tetapi budaya yang sekaligus menyatu dengan kepercayaan (agama) akan roh-roh nenek moyang, mahluk halus dan kehidupan sesudah mati (reinkarnasi) dan disebut budaya religi.

Upacara Tahun Baru berkisar pada penyembahan di depan meja sembahyang pada dewa Dapur atau Toa Pe Kong dapur (Ciao Kun Kong) yang dianggap sebagai penunggu rumah dan pemelihara dapur. Seminggu sebelum Imlek, sudah dilakukan upacara penyembahan dewa dapur karena dipercaya bahwa dewa dapur akan menghadap Thian (Penguasa Langit) untuk melaporkan keadaan keluarga yang dijaganya, karena itu dalam suasana ini biasa mulut patung dewa dapur diolesi madu dan dibakar hio wangi agar yang dilaporkan dewa dapur hanya yang manis-manis saja dan berbau harum. Bukan hanya itu, disediakan juga manisan pelakat gigi yaitu moci dan kue keranjang dengan maksud agar dimakan dewa dapur dan membuatnya sulit membuka mulut untuk melaporkan yang jelek, bahkan juga dibakar petasan agar dewa dapur cepat kembali dan pada saat melaporkan kepada Thian laporannya tidak terdengar karena ramainya petasan.

Khusus pada malam sebelum Imlek, pada tengah malam dibakar hio (dupa) berbau harum sebagai bagian upacara penyembahan dewa dan agar menyenangkan roh-roh nenek-moyang. Ini disebut 'Sembayang Tahun Baru' yang biasa dilakukan dengan sujud (kui) di depan meja sembayang tempat menyimpan abu nenek moyang atau bagi yang tidak memelihara dapat membuat meja sembayang sementara di depan pintu. Sembayang ini juga disebut sebagai sembayang 'Sam Seng' atau sembayang pengorbanan 'tiga hewan' yaitu biasa ditiru ritus pengorbanan darah tiga hewan yaitu babi, ayam dan ikan bandeng. Dalam sembayang 'Ngo Seng' ditambahkan bebek dan kepiting.

Pada hari Imlek biasa dibagikan amplop merah berisi uang 'Ang Pao' yang melambangkan rejeki, jadi orang tua memberikan rejeki kepada yang muda. Warna merah dalam kepercaan Tionghoa melambangkan rejeki, dan pada hari Imlek selama tiga hari tidak diperbolehkan untuk menyapu rumah dan mengeluarkan kata-kata kotor (sesudahnya boleh?). Pada hari Imlek seluruh keluarga mengucapkan 'Gong Xi Fa Cai' yang artinya mengucapkan selamat dan bahagia.

Pada hari keempat setelah Imlek, dipasang petasan dalam jumlah banyak untuk menyambut turunnya dewa dapur dari langit dan selain disamput dengan petasan, orang-orang Tionghoa mengundang 'Barongsai' dan 'Bilek Hud' untuk maksud ke rumah mereka. Barongsai dipercaya sebagai dapat mengusir kuasa kegelapan yang ada dalam rumah mereka, karena itu biasanya barongsai diajak menari-nari memasuki setiap ruang yang ada di dalam rumah. 

Jauh sebelum barongsai dimainkan, barongsai sudah diberi sajian dan disembayangi dengan lilin dan pembakaran hio. Barongsai melambangkan binatang pujaan orang Tionghoa, simbiosa singa dan naga yang dianggap sebagai pembawa pertolongan, pengharapan serta keselamatan pada manusia dan rumah tangganya, dan digunakan sebagai perisai untuk mengusir roh-roh kurang baik (sha-chi). Menurut Xie Xuanjing dalam buku 'Filosofi Budaya' dikatakan bahwa "Mitologi naga adalah suatu kesempatan bagi manusia untuk menjadikan mahluk non-manusia sebagai obyek penyembahan."

Pada malam tanggal 14 dan 15 sesudah Imlek, dirayakan pesta 'Goan Siao yang di Indonesia lebih dikenal sebagai pesta 'Cap Go Meh' (hari ke lima belas).

Bagaimana umat Kristen melihat Imlek dalam terang firman Tuhan? Dalam hal Imlek, khususnya orang Tionghoa yang telah menjadi Kristen perlu membedakan antara 'merayakan' Imlek dan 'menghadiri' peringatan Imlek. Merayakan Imlek artinya kita terlibat langsung dalam upacara Imlek seperti misalnya sujud dan sembahyang dengan dupa di depan meja sembahyang pada Toa Pe Kong dapur dan tengah malam sebelum Imlek membakar hio (dupa) sebagai ekspresi penyembahan dewa dan menyenangkan roh-roh nenek-moyang dalam 'Sembayang Tahun Baru' yang dilakukan dengan sujud (kui) di depan meja sembayang tempat menyimpan abu nenek moyang, apalagi kalau mengikuti sembayang 'Sam Seng' (sembayang pengorbanan 'tiga hewan') yang adalah ritus pengorbanan kafir.

Tidak ada larangan bahwa seorang Tionghoa yang menjadi Kristen tidak boleh 'Menghadiri peringatan Imlek' yang tentu berbeda dengan ikut merayakan upacaranya. Seseorang yang telah menjadi Kristen bisa saja hadir dalam pertemuan keluarga di hari Imlek karena disitu berkumpul anggota keluarga yang belum Kristen dan masih merayakan upacara Imlek, dan menjadi kesempatan reuni keluarga. Tentu seorang Kristen tidak perlu mengikuti upacaranya yang bisa mendukakan Roh Kudus di dalam kita. 

Soja kui didepan meja sembahyang jelas bukan kebiasaan Kristen demikian juga soja kui didepan orang tua perlu disudahi karena kita hanya menyembah Tuhan saja. Sebenarnya yang menjadi masalah adalah bahwa bagi seorang Kristen Tionghoa ia sebenarnya dapat mengasihi orang tuanya sepanjang tahun, karena itu bila dilihat kasihnya itu oleh orang tua, bila ia tidak soja kui pada hari Imlek tentu tidak menjadi masalah. Kasih yang tulus dan menerus secara Kristiani lebih berarti daripada tata-cara budaya sembah setahun sekali.

Menghadirkan barongsai atau mengundang barongsai di lingkungan kita harus dibedakan dengan hanya melihat barongsai di TV misalnya. Kita harus menyadari bahwa bagi yang merayakan termasuk yang memainkan, Barongsai bukan sekedar tarian akrobatik tetapi merupakan tarian religi yang berbobot mistik dan okultis. Sumber-sumber ahli masalah budaya cina sendiri mengatakan bahwa:

"Dalam pemujaan dan dalam upacara-upacara magis yang terdapat dalam kebudayaan-kebudayaan religi, banyak bentuk simbol dianggap mempunyai daya misterius yang mempengaruhi orang. Daya ini adalah daya magis Simbol-simbol religi juga bisa ampuh karena simbol-simbol ini dalam dirinya mempunyai kemampuan untuk mengundang roh dan memerintah roh tersebut Beberapa simbol memang benar mempunyai daya magis Singa dipercaya sebagai lambang dan berkah dan juga untuk mengusir pergi pengaruh jahat dengan mendatangi rumah-rumah dan kantor-kantor. Tarian ini disertai dengan pukulan tambur dan gembreng serta mercon untuk mengusir roh jahat (Ong Hean Tat, Simbolisme Hewan Cina, hlm.5-7, 234).

bersambung...